Apakah Kita Bagian Dari Budaya Copas?

"Menulis satu judul buku hanya dari satu referensi buku disebut plagiator, tetapi menulis satu judul buku dari banyak referensi disebut riset" (Joko Mumpuni, Direktur Penerbitan Penerbit Andi)

Ada sebuah hal yang menurut saya menarik, dalam pelatihan menulis lewat whatsapp group (WAG), pemateri atau narasumber biasanya memberikan perkuliahan melalui dua cara, pertama melalui pesan chat (tulisan) dan kedua melalui voice note (pesan suara).  

Entah kebetulan atau bagaimana, dua kali pemateri memberikan perkuliahan melalui voice note, peserta pelatihan yang diwajibkan menulis resume dari isi materi kemudian ditampilkan di blog, banyak yang terlambat untuk memajang hasil karyanya. Mungkin karena kesibukannya dalam bekerja.

Berbeda halnya jika narasumber memberikan materi dengan pesan chat atau tulisan. Semua peserta berlomba menjadi penulis tercepat dalam blog-blog mereka. 

Tulisan yang dibuat beragam. Tapi tidak jarang peserta hanya mengandalkan copy paste (copas) pesan chat yang sudah disampaikan pemateri dengan sedikit narasi dari penulis. 

Tapi itu lebih baik karena ada juga tulisan yang berisi 90 % lebih hasil copas dari pesan chat yang dikirim pemateri. 

Hal unik lain, ada pula yang menyampaikan materi dengan bahasa sendiri tapi lupa mengedit isi tulisan yang di copas sehingga penggunaan kata ganti orang pertama, orang kedua atau ketiga saling tertukar.  Semisal "saya" pada chat pemateri tidak dirubah menjadi "ia" atau "beliau" pada redaksi baru yang dibuat.

Jadi mungkin benar apa yang disampaikan Joko Mumpuni bahwa salah satu hambatan industri buku dan budaya literasi pada umumnya adalah rendahnya minat baca dan tulis. 

Dan sungguh celaka ini sudah membudaya. Bukan hanya pada level masyarakat umum, para akademisi sekalipun demikian. Kebanyakan lebih senang dengan mencari di google di banding membaca buku. 

Kembali ke uraian di atas, peserta pelatihan sepertinya kesulitan untuk membuat redaksi dengan kata-kata sendiri. Tapi tidak demikian halnya dengan copas pesan chat yang relatif mudah. 

Pun demikian saat harus membaca sependek kalimat chat saja masih malas dibaca, apalagi tulisan-tulisan dalam buku-buku ilmiah yang terurai panjang.

Saya tentu tidak bermaksud mendiskreditkan peserta pelatihan. Karena saya bagian dari peserta itu yang kadang terjebak dengan tradisi copas. 

Saya kira tidak ada salahnya copas untuk menyampaikan isi materi dengan gaya "selingkungan" versi Joko Mumpuni.  Tapi saat mengandalkan sepenuhnya hasil copas, itu tentu tidak baik. 

Saya berharap ke depan saya bisa lebih mampu membuat tulisan yang berasal dari lobus temporal (otak) saya sendiri. Pun demikian dengan teman yang lain. 

Sulitnya kita menulis, ternyata terkait juga dengan kebiasaan kita membaca. Saya ingat betul kata yang sering saya baca di group pelatihan "Lapar membaca maka akan kenyang menulis". 

Atau kata- kata dari Guru Blogger Indonesia, Wijaya Kusuma "Menulislah terus dan lihat keajaibannya".

Jadi, menulislah terus, kita tunggu keajaiban itu. Dan penulis profesional itu merupakan penulis pemula yang tidak berhenti menulis. Begitu kata Joko Mumpuni.


11 comments:

  1. Replies
    1. Atm = Amati tulis modifikasi itu tentu bagus bu

      Delete
    2. Amati tiru modifikasi, klo ini bgmn?

      Delete
  2. jujur...saya sering terjebak dalam tradisi copas dan tetap berusaha tidak menjadi plagiator.

    ReplyDelete
  3. Pun demikian saya. Diksi seolah terbatas di kepala saya. Hehe

    ReplyDelete
  4. Jadi ngrasa disebtilnnih membaca ini....terima kasih pak sudah mengingatkan

    ReplyDelete
  5. Berusaha tidak copas. Salam kenal dari saya.

    ReplyDelete
  6. Harus sering berlatih menulis sendiri, maka peluang untuk copas akan berkurang. Sip!

    ReplyDelete
  7. Copas temennys plagiatkah?

    ReplyDelete