Cerpen : Cinta Yang Salah

Cinta Yang Salah

Oleh Ilalang



Namanya Nurul. Umurnya baru 17 tahun. Orangnya tidak terlalu cantik tapi menarik. Warna kulit putih, rambut lurus, gigi bergingsul, dan bawaannya selalu ceria. Dia juga fans berat Persija, atau disebut juga Jack Angel. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan mudah tertarik.

Karena aku bobotoh Persib, aku tidak terlalu suka sama Nurul. Kita berbeda tim kesayangan. Dan kadang diantara dua pendukung ini saling berbenturan.

Sebagai bobotoh, kebiasaanku kumpul di markas atau sekretariat bobotoh Persib yang ada di Serang. Disana tua muda kumpul.  

Suatu ketika saat aku dipinggir jalan didekat markas bobotoh, Nurul menghampiriku. 

"Lu orang mana?" sapa Nurul.

"Gue orang komplek sini, ngapain nanya-nanya kayak gitu" jawabku.

Mendengar jawabanku yang agak jutek, Nurul pun segera pergi dari hadapanku. 

Tapi tak berapa lama ia datang lagi bersama temannya, Regita. 

Regita sendiri sudah sangat dekat denganku. Aku menaruh rasa sama dia. Tapi dia teman akrab ku. Aku tidak ingin merusak persahabatan kami.

"Emang lu belum kenal dia" kata Regita ke Nurul.

"Sering lihat sih, cuma gue gak tahu namanya" jawab Nurul ke Regita.

Aku hanya diam saja melihat mereka berdua ngobrol didepanku. Aku pun langsung pergi meninggalkan mereka ke sekretariat bobotoh Persib. 

Disana aku kopdar dengan para bobotoh lain. Nurul melihat-lihat dari luar saat aku berada didalam sekretariat. 

Didepan sekretariat ada warung Madura, warung yang identik buka 24 jam. Setelah beres kopdar aku dan beberapa teman kongkow di depan warung tersebut sampai jam 1 malam. 

Nurul sendiri pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat itu, sementara Regita ikut nimbrung bersama aku dan teman-teman.

Tak berapa lama Nurul kembali untuk mengambil uang yang ada di Regita. Aku sih cuek aja. Aku fokus ngobrol sama teman lain membahas untuk nobar besok sore. Pertandingan Persib lawan Persija.  Karena aku cuek, Nurul pun kembali ke rumahnya.

Sore itu aku dan teman-teman nobar. Nurul ikut nobar bersama kami dilapangan voli belakang mushola komplek. Selama nobar Nurul terlihat memperhatikan aku terus.

Pada malam hari setelah nobar, aku kembali berkumpul bersama teman-taman.

"Di, ada pesan masuk nih!" kata Iful. 

"Dari siapa?" tanyaku. 

"Dari Nurul, di inbok facebook lu!" jawabnya.

"Mau ngapain dia?" tanyaku.

"Nggak tahu, udah balas aja" jawabnya.

Aku pun ambil hp dan membaca pesan dari Nurul. Rupanya dia spam chat di inbokku. 

Nurul : Di

Aku : Iya

Nurul : Lagi dimana sama siapa

Aku : Depan lapangan sama anak-anak

Nurul : Nggak pulang ke rumah? Emang Lu blok mana di komplek?

Aku : Nggak, diblok F9

Nurul : Oh... Di, gue mau bilang sesuatu tapi guenya malu

Aku: Ngapain malu, malu kenapa

Nurul : Gue suka sama lu, cuma gue nggak enak sama Regita

Aku : Nggak enak kenapa

Nurul : Kan lu deket sama Regita

Aku : Deket bukan berarti suka, dia cuma temen

Nurul: Besok pagi lu ada di mana? Ketemuan yu!

Aku : Gue besok di komplek

Nurul : Yaudah besok kita ketemuan

Besok sorenya sehabis ashar, dia sudah menunggu di bunderan sekitar komplek. Dia memberi kabar lewat pesan singkat. Aku pun menemui dia.

"Ganggu gak?" sapa Nurul

"Nggak, mau ngomong apa? Disini aja gk usak jalan bawa motor" kataku

"Iyah gak akan kemana-mana" jawab Nurul.

"Emang sejak kapan lu ada perasaan sama gue?" tanyaku to the point. 

"Sejak pertama lihat lu, sebelum tahu nama lu gue udah suka sama lu" jawabnya. 

Aku tersenyum simpul mendengar Nurul mengatakan itu. 

"Kalau lu seneng jalani aja dulu, tugas gue sayang sama lu dan masalah lu suka atau nggak itu urusan lu" gombalku walau hati tidak terlalu suka sama dia.

"Iyah" jawabnya sambil tersenyum senang.

Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar. Dia terkejut dan memegang bahuku. 

"Udah pulang sana, mau hujan, kalau mau ketemu lagi malam aja, kalau nggak hujan" kataku.

"Iyah" jawabnya. 

Nurul pun pergi meninggalkanku.

Malam harinya kita betemu di sekretariat. Waktu itu aku dalam keadaan oploy atau terpengaruh obat-obatan. Aku bicaranya ceplas ceplos dan agak ngawur.

Jam 10 malam semua teman di sekretariat pulang. Tinggal aku sama Nurul disana. 

"Dingin" katanya.

"Sama, ke kamar yu" ajakku.

Dia pun mengikuti aku ke kamar sekretariat yang berbentuk rumah itu. Aku dan dia berbaring di kasur yang sama.

"Lu habis minum apaan? Kok ngomongnya asal-asalan?" tanya dia.

"Air es" jawabku bohong.

Dia tampak tak percaya dengan jawabanku. Dan akhirnya aku berterus terang habis minum obat terlarang.

Aku berbaring dikasur. Dia mendekat dan ikut berbaring. Kepalanya disandarkan ke dadaku. 

Karena tubuhnya begitu dekat, aku tergoda. Aku bergerak agar bibirku bisa mencium lehernya. Dan dari situ tanganku tak terkendali. Meraba seluruh tubuhnya.

"Baru juga pacaran kok sudah begini" protesnya. 

"Biarin aja sih, yang baru nikah juga langsung gituan" jawabku ceplas ceplos.

"Hmm maunya lu itu mah" jawabnya.

"Atuh iyahlah, emang lu nggak mau?" tanyaku.

Dia cuma menyeringai senyum penuh goda. Tampak dia juga menginginkan apa yang aku mau.

Aku pun melepas pakaiannya. 

"Jangan semua" pintanya.

"Iyah nggak" jawabku.

Dan malam itu pun aku bercinta dengan Nurul. Ini pertama kalinya ia bercinta. Dia masih perawan. Berbeda denganku yang sudah pernah dengan beberapa perempuan lain.

Setelah kejadian itu, kami pun semakin dekat. Dia sering mengirim pesan chat melalui aplikasi facebook atau whatsapp.  Aku pun mulai sayang sama dia. Perasaan itu tumbuh seiring kedekatan yang ada pada kami. 

Hampir setiap kali bertemu, kami selalu bercinta. Setiap minggu tidak kurang dari tiga kali bercinta. Sudah seperti layaknya suami istri.

Suatu siang, Nurul datang ke komplekku. Ia mengajakku jalan. 

"Jalan yu ntar sore" pintanya.

"Yaudah, kemana?" tanyaku.

"Jalan aja ke kompleks sebelah" jawabnya.

Sore harinya kita jalan. 

"Kita kemana nih, masa di sini saja?" tanyaku.

"Kemana aja terserah?" jawabnya. 

"Yaudah kita ke Cikupa aja, ke rumah saudaraku" ajakku. 

"Yaudah" jawabnya.

Akhirnya kami sore itu dari berangkat dari Serang ke Cikupa. Sekitar satu jam perjalanan kami di rumah saudara di Cikupa.

"Assalamualaikum" teriakku dari luar rumah.

"Waalaikumsalam" sepupu ku menjawab dan segera membukakan pintu. 

"Masuk.. masuk... kok nggak bilang-bilang mau kesini" tanya sepupu ku sambil melihat Nurul disampingku dengan rasa penasaran.

Aku masuk ke dalam bersama Nurul. Kemudian duduk di sebuah kasur lantai yang ada di ruang tengah rumah. Sepupu ku bergegas untuk mengambilkan air minum. 

"Udah nggak usah repot-repot" kataku.

"Nggak apa-apa, masa ada tamu nggak dikasih minum" jawab sepupu ku sambil melirik Nurul. 

Nurul cuma tersenyum mendengar jawaban itu.

Sepupu minta ijin untuk sholat magrib. Dari dalam kamar keluar seorang ibu setengah baya yang masih mengenakan mukena menghampiri kami. Dia baru selesai sholat. Wanita itu orang tua sepupuku.

"Tumben kadie, aya naon de?" tanya nya.

"Henteu, hayang ulin doang" jawabku dengan Bahasa Sunda khas Serang yang agak kasar menurut warga Priangan.

"Ges emam can?" tanyanya lagi.

"Can, can dahar" jawabku.

"Tuh si tetehnya ajak emam" pintanya pada ku agar mengajak Nurul makan bersama.

Karena lauk tidak mencukupi, aku disuruh beli ayam goreng depan Indomaret yang berada sekitar 200 meter dari rumah sepupu.

Kami pun makan, aku, Nurul, sepupuku, dan ibunya. 

Saat asyik makan, sepupuku yang lain datang. Ia baru pulang mengikuti bimbel. Ia baru kelas 7 SMP. Ia mengajak aku maen PS dilantai atas.

"Wah ada aa, maen PS yuk, udah lama nih nggk maen PS" katanya.

"Ntar aja baru juga aa datang, dia masih capek" ibunya menyela. Aku sih diam saja. Ia pun pergi meninggalkan kami 

"Teh, masih sekolah atau sudah kerja?" tanya ibu sepupuku ke Nurul.

"Udah, udah kerja" jawab Nurul bohong.

"Kerja dimana? Udah lama kerjanya?" tanyanya lagi.

"Di Serang, belum lama, baru beberapa bulan" jawab Nurul.

Obrolan pun berlanjut hingga jam 10 malam. Dan kami kemudian meminta ijin pulang. Saat itu  aku diberi uang Rp 600 ribu untuk ongkos pulang. 

Aku pun di antar sepupu naik motor bertiga ke jalan raya untuk mencari angkot. Sepupu ku langsung pulang meninggalkan kami menunggu angkot.

Kemudian aku dan Nurul pergi ke Citra Raya.  Disana kami mencari makan. Kami beli cemilan kentang goreng. Sampai pukul 12 malam kita masih disana.

"Pulang yuk, udah malam. Ntar dicariin sama orang tua lu" kata ku.

"Nggak, kan udah ijin. Gue bilang mau nginep dirumah temen. Jadi nggak bakal dicariin" jawab Nurul.

Akhirnya kami mencari tempat untuk menginap malam itu. Kami memilih sebuah hotel kecil dengan biaya menginap Rp 200 ribu permalam.

Di kamar hotel, kami duduk. Aku minta ijin keluar sebentar meninggalkan Nurul untuk beli air minum dan rokok. Kebetulan Nurul juga seorang perokok sama seperti halnya aku.

Kembali ke hotel Nurul sedang asik main hp sambil tiduran.

"Habis minum yah? Bau minuman keras" tanya Nurul.

"Dikit doang" jawabku.

Memang waktu keluar aku minum Mansion dan Whiski. Termasuk juga minum obat Jolam sebanyak 8 butir. Tujuannya sih biar aku merasa tenang dan percaya diri.

Aku pun mendekat ke Nurul. Kita berbincang di atas kasur sebentar. 

"Malas lihat lu pake levis, ribet" kataku pada Nurul.

Nurul pun melepas celana jeansnya, juga baju luarnya. Ia kini hanya mengenakan celana stret dan kaos dalam. Terlihat jelas kulit mulus dan belahan dadanya yang menggoda. 

"Belahan dadamu hangat banget lihatnya" kataku.

"Emang kenapa? Yaudah geh pake baju lagi" katanya.

"Ih nggak usah" larangku.

Tanganku pun bergerak cepat. Memeluk dia dan memasukan tangan kananku ke dalam belahan dadanya. Langsung ku cium tubuh indahnya. Ku lepas semua bajunya. Dan kami pun hanyut dalam sejuta kenikmatan surga dunia. 

Kami bercinta cukup lama, sejak jam dua dini hari sampai menjelang subuh. Tiga kali aku mengalami ejakulasi. Dua di dalam dan satu kali diluar, dimulutnya. 

Subuh itu kami mandi bareng, dan sarapan di hotel. Dan sekira pukul 6 pagi kami pun meninggalkan hotel. Kami pulang ke Serang.

Sampai di Serang aku ambil motor di parkiran dan berniat mengantarkan Nurul pulang. Tapi Nurul menolak. Dia mengajak ke rumah aku. Rupanya dia masih ingin bercinta denganku.  Tapi aku lelah. Aku paksa dia pulang. Akhirnya Nurul aku antar pulang.

"Dari mana aja semalaman baru pulang?" tanya ibunya.

"Maen" jawab Nurul singkat.

"Kenapa nggak bilang" kata ibunya.

Nurul kemudian ditarik sama ibunya ke kamar. Aku duduk dikursi ruang tamu. Aku lihat Nurul dimarahin. Dia ditanya- tanya oleh orang tuanya tentang apa yang sudah kami lakukan.

Nurul pun menceritakan apa yang sudah terjadi. Ia ceritakan semua yang ia lakukan bersama ku.  

Mengetahui apa yang sudah terjadi, keluarga Nurul berang.  Kakaknya yang laki-laki marah besar. Ia maki-maki aku. Aku pun di usir dari rumah itu.

Sampai di rumah aku ceritakan pada ibu bahwa aku ada masalah. Nanti malam ibu harus datang ke rumah Nurul pintaku. Aku tidak ceritakan semua yang terjadi. Biar nanti ibu tahu sendiri dari keluarga Nurul.

Malam harinya, aku, ibu, dua orang bibi dan seorang paman pergi ke rumah Nurul. Kami diminta masuk oleh keluarga Nurul. Di dalam sudah berkumpul delapan orang keluarga Nurul.  Disana kami berembuk mengenai solusi yang pas untuk kami.

Saat diceritakan semuanya oleh keluarga Nurul, ibu sempat shock. Kemudian oleh bibi ditengahi dan memberi saran tentang bagaimana bagusnya. Mereka pun sepakat untuk menikahkan kami dengan permintaan untuk biaya pernikahan Rp 50juta. 

Tiba-tiba datang salah seorang bibi Nurul dari luar. Dia menyarankan agar masalah ini ditunda dulu. Biar keluarga Nurul berembuk dulu. 

Besok malamnya kami kembali datang ke rumah Nurul. Ibu Nurul bilang padaku bahwa Nurul anak paling besar. Ia menitipkan Nurul ke aku. Malam itu keluarga ku pun memberikan uang sebanyak Rp 75 juta untuk keperluan pernikahan kami.

"Lu ada masalah apa sama keluarga Nurul?"  tanya Regita waktu bertemu denganku.

"Biasa, ntar juga lu tahu" jawabku.

"Gue denger lu bawa kabur anak orang. Semua ngomongin lu" jawabnya.

Aku sedih dengar kata-kata Regita. Kesedihanku tampak di wajahku sehingga Regita berempati padaku. 

Regita memelukku sambil berkata "Yang sabar yah".

Aku pun memeluk Regita dengan erat. Aku memang sayang ke dia. Andai saja aku milih Regita. Aku merasa nyaman saat memeluk Regita.

Banyak temanku yang melihat saat aku bersama Regita. Mereka bertanya sebenarnya aku pacar siapa, Nurul atau Regita. Aku hanya diam. Bisa jadi salah satu dari mereka menceritakan ini pada Nurul. Tapi aku tak peduli.

Selama kurang lebih empat bulan, belum juga ada permintaan aku untuk ke rumah Nurul. Aku tidak tahu kapan kami akan dinikahkan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi mondok di sebuah pesantren. 

Empat bulan aku di pesantren. Total hampir delapan bulan tidak ada kabar dari keluarga Nurul. Dan aku pun tidak pernah mendengar kabar tentang Nurul apalagi berkomunikasi dengannya.

Ketika aku di pesantren, bibi aku yang bekerja sebagai polisi mendatangiku. Dia meminta ku ikut ke Mapolda. Katanya aku dilaporkan oleh keluarga Nurul. Jadi aku akan dimintai keterangan oleh penyidik.

Aku bersama ibu dan bibi datang ke Polda. Disana aku dimintai keterangan. Setelah itu aku kembali ke pesantren. 

Besoknya aku diminta kembali ke Polda. Aku diminta menunjukan TKP dimana waktu itu aku ajak Nurul menginap di hotel.  Aku pun diminta tidak meninggalkan ruang penyidik. Dan menjelang magrib, aku dimasukan ke sel. Aku dipenjara. Aku sungguh tidak menyangka akan dipenjara seperti ini.

Aku beruntung dibanding tahanan lain. Jika tahanan lain mendapatkan siksaan fisik oleh sesama tahanan dan juga keisengan polisi. Aku tidak disentuh oleh mereka. Aku hanya mendapat sambutan sesama tahanan dengan tamparan dipipi saja.

Lima hari di Polda, aku kemudian di kirim ke rumah tahanan (rutan).  Aku masuk karantina selama dua minggu. Setelah itu aku masuk kamar tahanan. Kamar nomor 9. 

Ruang dengan ukuran 8 x 9 meter yang berbentuk seperti keranda mayat pada bagian dalamnya. Hanya ada satu pintu teralis besi berukuran 2 x 2 meter dan dua buah lobang angin berukuran 1 x 1 meter.  Selebihnya berupa dinding tebal. Bangunan ini sendiri merupakan bangunan lama buatan Belanda. Didalamnya diisi lebih dari 40 orang.

Dikamar itu aku disambut dengan tidak simpati. Aku diminta uang sebesar 3 juta rupiah oleh kepala kamar (palkam). Karena aku tidak sanggup memenuhi semua, tiap hari aku mendapatkan siksaan fisik oleh palkam tersebut. 

Aku pun disidangkan. Aku disangkakan pasal 81 undang-undang perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun karena Nurul masih dibawah umur.

Selama dipersidangan Nurul hanya diam. Dia tidak bicara apapun ke aku. Bahkan dia meminta agar ruang dipisahkan saat ia akan bersaksi. Aku pun tidak tahu apa yang ia ceritakan ke hakim.

Pada waktu sidang tuntutan, jaksa menuntutku dengan kurungan penjara 8 tahun. Dan Hakim memvonis aku selama 6 tahun penjara. Aku sekarang resmi jadi narapidana.

Beberapa waktu kemudian aku pun dipindah ke lembaga pemasyarakatan dan menceritakan semua kisahku ini pada seorang teman.

#cerpen #belajarmenulis


No comments:

Post a Comment