Laman

Kehabisan Ide Menulis? Ah Teu Sawios...

Ditta Widya Utami, S.Pd

Tulisan kali ini saya bingung harus memulai dari mana. Walau ide lagi minim, ah teu sawios...

Entah kenapa mood saya dalam menulis sedang mengalami penurunan. Saya serasa hilang semangat dalam menulis. Tapi isi materi pelatihan menulis kali ini seolah hadir untuk memotivasi saya kembali.  

Selain pematerinya cantik (tapi istri orang hehe...), apa yang disampaikan pas sekali dengan kondisi mood saya.

Namanya Ditta Widya Utami, S.Pd, seorang guru di SMPN 1 Cipeundeuy Subang. Wanita cantik kelahiran Subang, 23 Mei 1990 ini memaparkan materi tentang  bagaimana memulai menulis, tips menulis bagaimana membuat buku solo atau bersama.

Untuk melihat profil narasumber silahkan kunjungi https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html?m=1

Materi ini mungkin agak mirip dengan materi yang pernah disampaikan oleh narasumber-narasumber sebelumnya. Tapi beda orang beda isi kepala. Walau temanya sama-sama berbentuk tips menulis tapi pengalaman yang berbeda akan melahirkan tips yang berbeda pula.

Untuk lebih jelasnya kita simak pemaparan dari Bu Ditta berikut ini.

Bagaimana Memulai Menulis?

Di awal pemaparannya Bu Ditta memilih judul bagaimana memulai menulis. Kalau saya coba menjawab, kita mulai menulis sejak kecil. Sejak diajari menulis oleh orang tua kita. Atau waktu diajari guru kita menulis kata-kata "Ini Budi... Ini ibu Budi... Ini bapak Budi... "

Caranya yaitu dengan menuliskan huruf-huruf dirangkai menjadi kata dan kemudian menjadi kalimat dengan menggunakan pensil atau pulpen pada buku. 

Semua pasti ingat momen-momen itu. Dari yang tidak paham huruf-huruf sampai akhirnya kita bisa merangkai huruf menjadi kata, kalimat, atau paragraf. 

Saya ingat betul guru SD saya mengajari cara menulis seperti itu. Ia mengajari saya menulis abjad, membuat tulisan bersambung, sampai menulis karangan.

Tapi mungkin yang dimaksud menulis oleh Bu Ditta disini bukan menulis sesederhana itu. Menulis dalam arti yang lebih komplek. Semisal menulis artikel, novel, buku dan sebagainya.

Bu Ditta mengatakan bahwa keseharian kita tidak pernah terlepas dari aktivitas menulis. Kita sangat sering menulis semisal menjawab pesan, membuat status di media sosial, membuat catatan pribadi atau sebagai guru pasti sering menulis tugas untuk siswa dan lain sebagainya.

Aktivitas menulis terdengar bukanlah seperti sesuatu asing. Tapi apa  jadinya ketika harus menulis sebuah artikel, opini, novel atau buku? Apakah keseharian kita sudah terbiasa menulis hal yang disebutkan tersebut? Ataukah akan mengalami kesulitan memulainya?

Saat kita mulai menulis sesuatu yang berbobot, seolah ide menulis hilang begitu saja. Pikiran jadi gelap seperti di dalam kubur. Serem amat ya... hehe.

Ya tidak begitu juga sih, maksudnya kita seolah-olah kehabisan kata-kata untuk menuliskan sesuatu. Padahal ide-ide itu sudah terlintas di kepala.

Jika kita mengalami kebuntuan ide atau kehabisan kata, jangan khawatir. Bu Ditta juga pernah mengalaminya. Tapi Bu Ditta punya cara mengatasi hal tersebut. Berikut  tips dari Bu Ditta yang bisa juga kita terapkan.

1. Ikut kelas menulis

Sebagai contoh yaitu kelas menulis yang digarap oleh Wijaya Kusumah atau Omjay melalui KSGN. Kelas menulis ini ini akan memberikan berbagai keterampilan baru dalam menulis.

Dengan ikut kelas menulis kita bisa belajar berbagai teknik menulis yang diberikan oleh para narasumber semisal tulisan yang sedang kita baca ini.

Selain itu kelas menulis juga memberikan manfaat untuk bisa saling berbagi dan mengkoreksi satu sama lain diantara sesama penghuni kelas.

2. Ikut komunitas menulis

Bedanya dengan kelas menulis, komunitas menulis bersifat lebih fleksibel. Tidak ada jadwal formal pemberian materi kepada anggota komunitas. Kalaupun ada biasanya dengan membuat kelas menulis.

Keuntungan ikut komunitas menulis yaitu kita bisa saling berbagi dan mengkoreksi satu sama lain seperti halnya pada kelas menulis.

3. Ikut lomba menulis

Bagi sebagian orang ikut lomba menulis terdengar menakutkan. Hal ini karena kurang percaya diri dengan kualitas tulisan yang dibuatnya. 

Padahal dengan mengikuti lomba menulis, kita akan belajar bagaimana membuat tulisan sesuai dengan kriteria lomba.

Jika kita berhasil menjadi pemenang dalam lomba menulis itu hanya sebagai bonus tambahan dalam meng-upgrade kualitas tulisan kita. 

Dan walau agak kecewa saat kita mengalami kekalahan, tapi kita bisa belajar banyak dari kesalahan yang ada dan memperbaiki dikemudian hari.

4. Menulis apa saja yang ada di sekitar/dalam keseharian kita

Ide akan dengan mudah kita temui di sekitar lingkungan kita. Apa saja yang kita temukan, dirasakan atau dialami akan menjadi bahan tulisan. 

5. Menulis apa saja yang kita suka

Menulis dari hati itu lebih menyenangkan di banding karena keterpaksaan. Kita pasti akan senang melakukan sesuatu yang kita sukai. Dan menjadi anugerah tersendiri jika menulis merupakan bagian dari kesukaan kita.

Kalaupun menulis berada diurutan bawah dari daftar kesukaan kita, tenang saja. Apapun yang kita suka bisa jadi bahan tulisan. Semisal saya suka memancing. Maka saya bisa membuat tulisan tentang memancing.

Jika benar ingin meningkatkan kemampuan menulis,  silakan langsung coba dan buktikan sendiri tips di atas. Setelah kelima hal itu kita lakukan, kesulitan kita dalam menulis pasti akan teratasi.

Dimana Kita Menulis?

Kalau kita tanyakan pada anak SD, mereka pasti menjawab menulis ya di buku tulis. Kalau tidak di papan tulis. Atau diatas meja. Ingatkan kan waktu sekolah paling senang menulis di meja? Atau menulis ditelapak tangan nama yang kita sukai.. duh yah jadi memorian hehe....

Tapi yang dimaksud Bu Ditta bukan sekedar menulis kata-kata tanpa arti. Menulis harus menjadi  sebuah kebaikan. Berbagi kebaikan melalui tulisan. Berbagi ide, berbagi pikiran dan berbagi pengetahuan sehingga orang yang membaca akan menjadi terinspirasi.

Lalu dimana kita menulis? Menurutmu Bu Ditta ada beberapa media yang kita bisa gunakan.

1. Blog

2. Buku harian

3. Laptop atau handphone

4. Aplikasi khusus menulis semisal wattpad dan storial

5. Media sosial


Menulis Buku Sendiri atau Bersama?

Pada tulisan beberapa waktu yang lalu disebutkan terdapat tiga level menulis menurut Encon Rahman, maka menulis buku berada pada level menengah atau level tinggi. 

Jika kebiasaan menulis sudah terasah, maka saatnya naik level. Menulis buku merupakan salah satu cara menaikan level menulis yang kita miliki.

Seandainya dihadapkan pada pilihan menulis solo atau kolaborasi / bersama, maka keduanya bisa saja dijadikan pilihan. Tergantung pertimbangan penulis. 

Menurut H. Encon Rahman, menulis buku solo termasuk level menulis tingkat tinggi. Sedangkan menulis buku bersama merupakan level intermediete atau menengah. 

Selain perbedaan level di atas, Bu Ditta juga menambahkan beberapa perbedaan antara menulis buku solo dengan buku bersama sebagai berikut :

1. Tema buku solo tergantung si penulis, ia bebas mengekspresikan apa yang ada di kepala. Sedangkan menulis buku bersama tema sudah ditentukan.

2. Menulis buku solo target selesai sesuai dengan keinginan dan kemampuan penulis. Sedangkan pada buku bersama target penulisan sudah ditentukan. 

3. Menulis buku solo akan direpotkan mengenai masalah penerbitan karena semua harus di urus sendiri. Sedangkan menulis buku bersama proses penerbitan biasanya sudah ada yang urus.

Untuk perbedaan lain silahkan identifikasi sendiri yah, soalnya Bu Ditta menyampaikan tiga hal itu saja. Siapa tahu ada yang mau menambahkan semisal kalau menulis buku solo keuntungan penjualan buku bisa dinikmati sendiri saja jadi lebih besar hehe..

Atau seperti pada tulisan sebelumnya penerbit akan lebih senang jika buku ditulis banyak orang apalagi hasil kerjasama dengan lembaga. Target penjualan jelas dan lebih menguntungkan bagi industri perbukuan.

Jadi pilihan dikembalikan pada kita, mau menulis buku solo silahkan, menulis buku bersama tetap baik. Yang penting level menulis kita meningkat. 


Tips Tambahan

Dalam sesi tanya jawab, Bu Ditta membagikan beberapa tips tambahan. Berikut saya coba rangkum tips yang diberikan Bu Ditta kepada peserta pelatihan menulis :

1. Agar konsisten menulis terapkan lima hal diatas dengan tambahan niatkan agar tulisan kita bermanfaat untuk orang lain

2. Merefresh otak dengan melakukan hal yang kita sukai atau membaca buku yang menghibur

3. Menjaga mood agar tidak malas menulis cara paling mudah dengan tersenyum. Senyum mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. (Awas kebanyakan senyum disangka orang gila hehe..)

4. Cara termudah membuat buku dengan mengumpulkan tulisan terserak sesuai tema kedalam file atau folder.

5. Cari penerbit yang lokasinya dekat agar lebih mudah dan cepat saat nanti proses pengiriman buku.

6. Yang sulit konsentrasi ketika menulis cari suasana yang tenang dan nyaman.

7. Agar ide tulisan tidak hilang, segera catat apa yang ingin kita tulis. Minimal garis besarnya.

8. Bakat memang penting dalam menulis, tapi  kemampuan menulis dapat ditingkatkan dengan terus berlatih.

9. Rahasia agar bisa menulis dengan baik adalah dengan banyak membaca dan banyak berlatih.

10. Saat sedang menulis jangan pikirkan editing, menulis sampai selesai baru kemudian lakukan perbaikan. 

11. Buat target yang jelas semisal dengan menuliskan di kertas/karton lalu tempel di dinding.

Mohon maaf kalau tulisan kali ini tidak sebaik yang diharapkan. Sudah berhasil membuat resume saja saya sudah bersyukur. Inilah salah satu keuntungan mengikuti kelas menulis. Walau lagi tidak mood menulis tetap menghasilkan karya tulisan.

Semoga bermanfaat.

12 comments:

  1. Wiih mantap lho tulisannya Kang Didi , jagoan Banten tea atuh...

    ReplyDelete
  2. Wah, tulisan yang wow ini tuh dibuat saat sedang gak mood. Gimana kalo nulisnya lagi mood? Hehe

    Keren, Pak 👍đŸģ
    Suatu kehormatan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya karena telha dibuatkan resumenya. Terima kasih 😊🙏đŸģ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ibu sudah berkenan mampir di blog saya. Sebuah kehormatan juga bagi saya dikomentari ibu cantik yg penuh prestasi

      Delete
  3. Resumenya mantap, cukup informatif dan eyecathing....sukses selalu

    ReplyDelete
  4. Apa tuh artinya ah teu sawios,,, bagus resumenya ada tambahan sumber lain,, sukses

    ReplyDelete
  5. Pak Didi keren ih! Tips mengembalikan mood, refreshing, Pak. Alihkan sejenak pada hal lain yang juga menyenangkan. Jangan kelamaan tapinya. Entar lupa cara menulis jadinya. Ha ha ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah bener pak..kelamaan refreshing jd mls nulis lg

      Delete