Laman

Bagaimana kebenaran dari teori-teori tentang masuknya Islam ke Nusantara?



Jagoan Banten. Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya terkait jawaban aktivitas individu pada Tema 3 Buku IPS Kelas 7 Kurikulum Prototipe / Sekolah Penggerak.

Untuk membaca jawaban dari aktivitas individu sebelumnya silahkan klik Disini.

Bagaimana kebenaran dari teori-teori tentang masuknya Islam ke Nusantara? Coba kalian analisis dan pilih salah satu yang menurut kalian tepat sebagai awal mula masuknya Islam di Indonesia!


Teori yang muncul terkait masuknya Islam ke Indonesia tentu didasarkan pada bukti-bukti yang telah diteliti. Semua teori tersebut memiliki tingkat kebenarannya masing-masing. Namun demikian tidak pula dapat dipastikan teori mana yang paling benar.

Dari beberapa teori yang ada, masuknya Islam yang dibawa oleh pedagang muslim dari Gujarat India mungkin lebih bisa diterima karena interaksi perdagangan yang terjadi lebih intens apalagi dengan adanya waktu menunggu pergantian musim (perubahan angin muson) yang cukup lama untuk bisa kembali ke negaranya.

Selain itu, banyak kerajaan bercorak Islam berada di pesisir pantai. Hal ini terjadi karena pusat-pusat perdagangan biasanya berada didaerah sekitar pantai.

Untuk memahami lebih lanjut teori masuknya Islam ke Indonesia baca tulisan berikut ini : 


Bagaimana Karakteristik Selat Malaka? Mengapa Selat Malaka menjadi ramai perdagangan dan menjadi tempat yang strategis untuk perdagangan?


Selat Malaka merupakan selat yang berada diantara Semenanjung Malaysia dengan Pulau Sumatera. Selat ini menghubungkan Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia.

Selat ini penting dalam jalur perdagangan dari wilayah timur (Tiongkok) menuju ke wilayah barat (India) karena merupakan jalur laut terpendek yang bisa dilalui.

Akibat banyaknya kapal yang berlayar melewati Selat Malaka, selat ini menjadi ramai dan persinggahan kapal-kapal tersebut menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai.

Bagaimana kedudukan Selat Muria yang menjadi pelabuhan Kerajaan Demak pada saat itu?


Antara pulau Jawa dan pulau Muria terdapat Selat Muria. Selat ini menjadi pelabuhan utama Kerajaan Demak. Berbagai komoditas seperti kain tradisional dari Jepara, garam dan terasi dari Juwana, serta beras dari wilayah pedalaman Pulau Jawa dan Pulau Muria diperdagangkan di selat ini.

Selain pusat perdagangan, selat ini juga ramai dengan banyaknya galangan-galangan kapal yang memproduksi kapal jung jawa berbahan kayu jati yang banyak ditemukan di Pegunungan Kendeng yang terletak di selatan selat. Oleh karenanya, selat ini menjadi lebih kaya dibanding pusat Kerajaan Majapahit.

Akibat adanya pendangkalan, Selat Muria tidak bisa dilewati kapal-kapal besar. Pendangkalan ini terjadi akibat endapan aluvial dari sungai-sungai yang bermuara ke Selat Muria seperti Kali Serang, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi. Akibatnya, pusat perdagangan sempat dipindahkan ke Jepara.

Akibat pendangkalan terus menerus, saat ini Selat Muria sudah tidak ada dam Pulau Muria sudah bersatu dengan Pulau Jawa.

Bagaimana konflik yang terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji?


Sultan Haji merupakan anak dari Sultan Ageng Tirtayasa. Konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji terjadi karena Sultan Haji berambisi merebut kekuasaan dari ayahnya.

Sultan Haji melakukan itu karena ia di hasut oleh orang VOC (Belanda) sehingga ia mencurigai ayahnya akan memberikan tahkta kepada Pangeran Arya Purbaya. Padahal Sultan Haji ditetapkan sebagai putra mahkota oleh ayahnya.

Sultan Haji bekerjasama dengan VOC untuk mengkudeta Sultan Ageng Tirtayasa. Terjadi konflik antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa yang berujung penangkapan Sultan Ageng Tirtayasa oleh VOC.

Penangkapan tersebut akibat bujuk rayu Sultan Haji pada Sultan Ageng Tirtayasa untuk pulang ke Istana Surosowan. Disana ternyata Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap VOC dan dipenjara di Batavia hingga ia meninggal.

No comments:

Post a Comment