Carilah nama dari suku di Bali yang memiliki kebudayaan yang berbeda, terutama dalam merawat jenazah!


Foto : baligateway.co.id

Jagoan Banten. Berikut ini merupakan tulisan yang masih ditujukan untuk membantu pelajar dalam menyelesaikan tugas di sekolah.

Tugas yang dimaksud yakni tugas pada Buku IPS Kelas 7 Sekolah Penggerak pada halaman 207 sebagai berikut:

  • Isolasi geografis tidak hanya terjadi pada sebuah pulau, carilah nama dari suku di Bali yang memiliki kebudayaan yang berbeda, terutama dalam merawat jenazah, carilah alasan mengapa kebudayaan mereka berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya, serta jelaskan bagaimana pemulasaraan mayat leluhur mereka!

Pembahasan


Suku asli di Bali yakni Suku Bali Mula atau Suku Bali Aga. Suku ini datang pada gelombang pertama dan kedua migrasi ke pulau Bali yakni pada masa Prasejarah dan masa penyebaran agama Hindu di Nusantara.

Sementara pada gelombang ketiga disebut Suku Bali Jawi karena berasal dari Pulau Jawa pada masa penyebaran agama Islam.

Suku Bali Aga berbeda dengan suku Bali pada umumnya. Perbedaan ini terjadi karena mereka tinggal di wilayah yang terisolasi yaitu di kawasan pegunungan.

Kawasan Suku Bali Aga yang terkenal yakni Desa Tenganan dan Desa Trunyan.

Di kawasan ini, Suku Bali Aga membentuk komunitas tersendiri dengan adat istiadat yang ketat sehingga memiliki kebudayaan yang terjaga sejak dulu.

Sebagai contoh bahasa yang digunakan Suku Bali Aga memiliki dialek yang unik dan berbeda dengan Suku Bali pada umumnya.

Dalam hal pernikahan, Suku Bali Aga dilarang menikah dengan penduduk diluar desa. Jika itu terjadi, maka orang yang melanggar harus keluar dari desa dan kehilangan hak-hak dari keluarganya. Pernikahan dalam keluarga dimungkinkan dengan batas silsilah 4 generasi.

Demikian pula dengan beragam ritual keagamaan. Ritual Suku Bali Aga berbeda dengan komunitas Suku Bali yang lain.

Suku Bali Aga memiliki kebudayaan yang berbeda terutama dalam merawat jenazah.

Di Desa Trunyan, proses pemakaman dilakukan tanpa dikubur ataupun dikremasi.

Jika ada yang meninggal, jenazah dibungkus kain dan ditaruh di atas tanah. Kemudian jenazah dilindungi oleh anyaman bambu berbentuk segitiga. Lalu dibiarkan membusuk. Tradisi pemakaman ini disebut mepasah.

Hal yang mungkin terkesan aneh yakni walau jenazah dibiarkan membusuk, tapi tidak tercium bau busuk.

Pada area pemakaman terdapat sebuah pohon besar yang mengeluarkan aroma wangi. Inilah yang diyakini mampu mengurangi bau busuk. Pohon besar ini disebut sebagai Taru Menyan.

Pemakaman yang dilakukan Suku Bali Aga dibedakan menjadi tiga macam yakni untuk yang meninggal secara wajar, yang meninggal tidak wajar atau kecelakaan, dan pemakaman untuk bayi.

Pemakaman untuk yang meninggal secara wajar dilakukan ditempat Sema Wayah. Untuk yang tidak wajar ditempat Sema Bantas. Dan bayi dilakukan ditempat Sema Nguda.

Untuk bisa menjangkau ketiga lokasi pemakaman harus dengan perahu, naik dari wilayah pemukiman Desa Terunyan atau dari tepian Danau Batur.


Simpulan


Nama dari suku di Bali yang memiliki kebudayaan yang berbeda, terutama dalam merawat jenazah yaitu Suku Bali Mula atau Suku Bali Aga.

Alasan mengapa kebudayaan mereka berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya yaitu karena :

1. Secara geografis mereka terisolasi yakni tinggal di daerah pegunungan dan jauh dari keramaian dan minim interaksi denhan budaya luar.

2. Aturan adat yang ketat semisal tidak boleh ada pernikahan dengan penduduk diluar desa.

3. Suku Bali Aga memegang teguh adat istiadat secara turun temurun.

Pemulasaraan mayat leluhur Suku Bali Aga yakni dengan membungkus mayat dengan kain kemudian membiarkan membusuk dibawah pohon Taru Menyan tanpa mengubur atau mengkremasinya.

No comments:

Post a Comment