Laman

9 Cara Meningkatkan Antusiasme Siswa Di Kelas (Agar Guru Disukai Siswa) - Berdasarkan Pengalaman Nyata


Jika dihadapkan pada pilihan situasi sebagai berikut :

Situasi A : Saat guru datang masuk kelas, siswa begitu antusias menyambut guru, mereka bersemangat melaksanakan pembelajaran, seolah penasaran tentang kejutan apa lagi yang akan guru berikan di kelas.

Situasi B : Saat guru datang masuk kelas, siswa tampak murung dan malas untuk melaksanakan pembelajaran, kelas hening atau bahkan ribut sekali, seolah tidak memperdulikan kehadiran guru.

Sebagai guru, situasi mana yang anda pilih? Mayoritas mungkin akan menghendaki pilihan pada situasi A. 

Situasi A maupun B tentu bukan tanpa sebab. Dan penyebab utamanya pasti berhubungan dengan penampilan dan perilaku guru itu sendiri ketika di dalam kelas atau di sekolah.

Nah, bagaimana agar kita bisa pada situasi A, berikut beberapa tips yang bisa dipraktekkan ketika berada di sekolah. 

1. Menjaga Penampilan

"Jangan menilai buku dari sampulnya". Ungkapan ini sangat familiar ditelinga kita. Tidak hanya di Indonesia termasuk juga diluar negeri. Ini mengingatkan kita agar tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja.

Tapi faktanya, orang akan sangat mudah tertarik hanya dengan melihat tampilan luar. Makanya ada ungkapan lain semisal "Jatuh cinta pada pandangan pertama".

Dalam buku psikologi sosial juga dikenal sebuah stereotip tentang daya tarik fisik akibat efek "segala hal yang indah adalah baik". 

Implikasi efek ini pada dunia periklanan biasanya dimunculkan artis dengan tampang menarik untuk mencitrakan produknya adalah baik.

Hal ini akan berlaku juga saat seorang guru ingin disukai siswa-siswanya, ya dengan cara menjaga penampilannya agar terlihat menarik. 

Berikut tips sederhana agar penampilan terlihat menarik :

  • Gunakan pakaian yang rapi, tidak harus mahal, tapi rapi semisal selalu di setrika. Begitu juga dengan sepatu yang terlihat selalu dirawat dengan di semir. 
  • Untuk laki-laki pastikan rambut selalu dipotong pendek, akan lebih baik jika menggunakan minyak rambut dan juga cukur jenggot dan kumis secara berkala. 
  • Jaga bau badan semisal menggunakan deodoran atau minyak wangi. Siswa akan malas mendekat pada guru yang dekil, apalagi bau. Dan mereka akan sangat suka pada guru yang wangi. Tapi ingat, jangan berlebihan karena bau yang menyengat justru akan mengganggu.
  • Untuk guru perempuan, tidak perlu menggunakan perhiasan berlebihan karena itu justru bersifat kontraproduktif atau menimbulkan kesan sombong. Dan jangan pula menggunakan make up berlebih karena hanya jadi bahan olok - olok siswa. 

2. Berikan Pujian Tulus

Siapa yang tidak mau mendapat pujian? Saya kira semua suka dipuji. Apalagi pujian tersebut tulus dari hati. Bukan sebuah kepura-puraan. 

Begitu pun dengan siswa. Apresiasi sederhana atas karya-karyanya menjadi motivasi tersendiri.

Jika mengacu pada hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan untuk mendapat penghargaan berada diurutan atas sebelum aktualisasi diri. 

Ini berarti sebuah pujian atau apresiasi yang terlontar dengan spontan dan tulus akan menjadi sebuah penghargaan bagi siswa. Jika penghargaan ini diterima siswa, maka akan berkorelasi dengan motivasi belajar sekaligus munculnya rasa senang pada guru.


3. Konsisten Dengan Ucapan

Apa yang diucapkan harus selaras dengan apa yang dilakukan. Hal ini akan membantu meningkatkan integritas guru di mata siswa. 

Siapa pun kita pasti menyukai orang dengan sebuah integritas. Termasuk siswa saat menilai guru. 

Apa yang diucapkan harus sama dengan apa yang dilakukan juga sudah disebutkan oleh Allah SWT dalam QS. As Saff ayat 2 - 3 (silahkan baca terjemahnya). 

Allah SWT sangat membenci orang yang perkataan dan perbuatannya tidak selaras. Jika Allah saja benci, apalagi manusia sebagai mahlukNya.


4. Tegas Bukan Galak

Siswa melanggar tata tertib apa guru langsung menghukum? Guru yang baik tidak akan menghukum siswanya. Tapi apa jadi nya jika pelanggaran itu dibiarkan? 

Nah, untuk menggantikan hukuman banyak cara lain yang bisa ditempuh. Semisal konsekuensi. Bedanya dengan hukuman, konsekuensi merupakan tindakan yang dipilih siswa atas dasar kesepakatan yang dibuat dan resiko yang ditanggung pun sudah sangat diketahui siswa.

Semisal, siswa yang tidak masuk kelas selama periode tertentu harus mengerjakan tugas membuat rangkuman. Hal itu berdasarkan kesepakatan guru dengan siswa. Konsekuensi ini harus sesuai kesepakatan, bukan putusan yang berikan guru secara sepihak. Mereka mengetahui resiko jika tidak masuk kelas untuk suatu mata pelajaran pada periode tertentu.

Dengan melibatkan siswa dalam memutuskan sebuah konsekuensi akan berpengaruh pada kepatuhan siswa atas konsekuensi tersebut karena mereka terlibat didalam penentuan konsekuensi tersebut. 

Beda halnya jika guru dengan sewenang-wenang memberikan hukuman pada siswa. Apalagi terselip kata -kata kasar. Guru ini akan disebut guru galak pada versi siswa. 

Galak identik dengan kemarahan tak terkendali. Sedikit - sedikit marah. Bahkan untuk hal sepele sekalipun. Semisal siswa mengobrol dengan teman di sebelahnya, emosi langsung terpicu dan melempar penghapus papan tulis kepada siswa tersebut.

Marah dan hukuman menjadi menu wajib guru galak. Kadang marah yang tak beralasan hanya sebagai penyaluran masalah di rumah misalnya.

Dalam kondisi tertentu marah mungkin diperlukan, tapi bukan berarti harus galak. Marah harus disertai dengan ketegasan. 

Tegas berbeda dengan galak. Tegas merupakan sikap konsisten menjaga aturan dengan tidak pandang bulu serta tidak pada posisi abu - abu. Jika salah ya salah, jika benar ya benar. Sedangkan galak dan bukan bertujuan menegakan aturan tapi lebih pada suasana hati. 

Guru yang tegas akan meningkatkan kewibawaan dirinya. Siswa akan menyukai guru yang memiliki wibawa dan akan memunculkan rasa senang belajar bersama guru tipe seperti ini. 

Beda halnya dengan guru galak, rasa was was, khawatir jadi korban kemarahan menjadikan rasa tidak nyaman berada di dalam kelas. 

Lawan dari tegas yakni lemah. Guru lemah juga tidak baik. Semisal saat siswa ribut, guru diamkan, maka keributan akan semakin menjadi. Jika kondisi ini terus berlangsung, wibawa guru tidak ada dan akan sangat mudah dilecehkan siswa. Maka ketegasan memang diperlukan disini.

5. Selingi Dengan Humor dan Kata Motivasi

Pembelajaran yang berlangsung di kelas walau dilakukan dengan variasi metode, tetap saja akan membosankan jika guru tidak memiliki keahlian dalam mengelola kelas. 

Saya ingat betul, waktu dulu kuliah disebutkan bahwa mengajar itu seni. Sekalipun materi dan metode sama, situasi belajar dikelas akan tergantung kepiawaain guru mengelola kelasnya.

Dalam pengelolaan kelas saat mengajar, sekali-kali perlu diselingi dengan sedikit humor. Begitu pula saat menegur siswa. Gunakan humor untuk menyindir secara halus agar siswa menyadari kesalahannya. 

Guru juga harus bisa jadi motivator handal. Sisipkan kisah motivasi orang-orang hebat atau cerita hikmah saat ia mengajar. Hal ini selain memicu semangat siswa, mereka juga akan suka melihat optimisme yang dimiliki sang guru.


6. Variasi Metode Mengajar 

Metode apa yang terbaik? Kalau ada yang mengatakan metode ini lebih baik dari pada metode itu, saya kurang sependapat. Semua metode baik jika digunakan pada saat yang tepat.

Mana yang lebih baik antara stelan jas berdasi dengan kaos oblong? Kalau menjawab stelan jas berdasi, coba gunakan itu saat membajak sawah. 

Situasi dan tempat yang tepat akan menentukan sebuah metode itu baik atau tidak. 

Nah, variasi metode mengajar harus dilakukan karena tidak semua situasi cocok dengan satu atau dua metode. Variasi ini juga baik untuk menghindari kejenuhan siswa dalam belajar dikelas sehingga tidak monoton.

Guru yang menggunakan metode bervariasi akan lebih disukai siswa karena mereka seolah diajak untuk selalu berinovasi.


7. Beri Kejutan

Kejutan tidak selalu identik dengan hadiah. Kejutan bisa dilakukan dengan menampilkan metode baru saat mengajar. 

Hal sepele pun bisa jadi kejutan semisal tiba-tiba guru memasukan motor ke dalam kelas hanya untuk menjelaskan materi perdagangan internasional. 

Atau tiba-tiba guru meremas uang lembaran seratus ribu kemudian melemparnya didepan kelas hanya untuk memotivasi siswa. 

Contoh lain kejutan semisal tiba-tiba guru memanggil siswa secara acak ke depan kelas untuk sekedar mengecek pemahaman materi pertemuan sebelumnya, atau hanya untuk sekedar memberi apresiasi dari prestas kecil yang dilakukan siswa tersebut.

Kejutan dilakukan secara tak terduga namun harus berhubungan dengan materi atau bagian dari cara untuk memotivasi siswa. Kejutan juga bisa berbentuk hadiah jika guru sedang memiliki rejeki lebih. 

Kejutan akan menarik perhatian siswa. Seringnya kejutan yang diberikan guru akan berdampak pada rasa penasaran siswa tentang kejutan apalagi yang akan mereka terima. Ini tentu akan memotivasi mereka untuk selalu mengikuti pembelajaran dengan guru bersangkutan.


8. Terus Belajar 

Jika guru berhenti belajar akan lebih baik berhenti mengajar. Kata-kata Pak Komarudin Hidayat yang selalu saya ingat. 

Tentu hal ini bukan tanpa sebab. Dunia selalu berubah. Dan jika guru tidak ikut berubah dengan terus mempelajari hal terbaru, maka dia akan jadi usang dan tidak lagi menarik.

Siswa akan sangat menyukai guru yang selalu update akan informasi terbaru. Apalagi informasi tersebut seputar kehidupan siswa semisal tentang sesuatu yang viral di media sosial. 

Guru bisa terus update informasi dengan membaca berbagai berita baik secara online atau offline. Tapi di era 4.0 ini akan lebih mudah menelusur berita secara online.

Guru juga harus bisa menggunakan media sosial  dan terhubung dengan siswanya untuk bisa melihat apa yang sedang dibicarakan siswanya. Tapi ingat, jangan pernah gunakan media sosial untuk menegur kesalahan siswa karena itu akan berdampak pada turunnya wibawa guru.

Selain itu, terkait dengan disiplin ilmu yang diampu, guru harus benar-benar menguasai materi tersebut dengan terus memperdalam melalui bacaan - bacaan terkait.


9. Senyum Salam Sapa

Tersenyumlah. Maka orang disekeliling akan merasakan energi positif yang merangsang mereka untuk ikut tersenyum. Senyuman tulus guru pada siswa juga akan memberikan energi itu. 

Sebuah senyuman seolah mewakili kata aku sayang kamu, aku suka kamu, aku butuh kamu atau kamu begitu berarti atau spesial. 

Selain senyuman tulus, salam dan sapa juga akan sangat bermanfaat untuk menunjukan sikap ramah guru pada siswa. Keramahan ini akan mendapat timbal balik sikap hormat siswa pada guru. Suasana yang terbentuk akan lebih hangat dan penuh keharmonisan. Siswa akan merasa nyaman dan senang melakukan pembelajaran dengan guru seperti itu.


Demikian beberapa kiat sederhana untuk meningkatkan antusiasme atau motivasi  siswa dalam pembelajaran sekaligus meningkatkan rasa suka siswa terhadap guru. 

Silahkan tambahkan kiat lain pada kolom komentar untuk pengalaman lainnya.

No comments:

Post a Comment